Desainer nilai pemimpin RI perlu dijadikan sebagai identitas bangsa
Jakarta – Desainer sekaligus Advisory Indonesian Fashion Chamber Ali Charisma menilai bahwa sudah saatnya para pemimpin Indonesia tidak lagi hanya dijadikan sebagai ikon protokoler, tetapi juga bagian dari mempromosikan identitas bangsa pada dunia.
“Menurut saya, kita perlu mulai melihat pakaian pemimpin negara bukan hanya sebagai persoalan protokoler atau pakaian seremoni, tetapi juga sebagai bagian dari identitas bangsa, diplomasi budaya dan industri kreatif,” kata Ali kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Ali mengatakan Indonesia mempunyai modal budaya yang sangat besar. Wastra seperti batik, tenun, songket, ulos dan berbagai teknik tekstil Nusantara sebenarnya bisa menjadi sumber inspirasi untuk membangun identitas fesyen nasional yang kuat.
Dia membayangkan sebuah gaya formal kenegaraan Indonesia yang tetap modern, sophisticated (canggih), powerful (kuat), dan sesuai dengan standar fesyen internasional, tetapi ketika dilihat orang, tetap terasa bahwa itu adalah Indonesia.
Bila hal itu dilakukan secara konsisten oleh Presiden, Wakil Presiden, para menteri, dan pejabat negara, Ali percaya efeknya bisa sangat besar terhadap industri fesyen nasional mulai dari desainer, perajin, penenun, pembuat batik, industri tekstil sampai UMKM.
“Jadi menurut saya, kita tidak perlu memilih antara tradisi dan modernitas. Justru kekuatan fesyen Indonesia ke depan adalah bagaimana kita membawa identitas tradisional Indonesia ke dalam bahasa fesyen yang modern dan global,” kata Ali.
Sebelumnya, dia pernah mengomentari gaya berbusana yang dikenakan Presiden Prabowo Subianto dalam di Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI 2026 yang menurutnya masih dapat dikembangkan lebih jauh dengan sentuhan Indonesia.
Ali menyampaikan suit formal tetap menjadi pilihan yang tepat karena memberikan kesan berwibawa dan presidensial, tetapi desainnya tidak harus selalu mengikuti formula klasik Barat.
“Presiden Indonesia harus terlihat formal, modern, powerful, dan contemporary, tetapi ketika dilihat dunia, tetap terasa bahwa beliau adalah representasi Indonesia,” ujar Ali.
Ali menambahkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa untuk diterjemahkan ke dalam tailoring modern (gaya menjahit modern). Unsur tersebut dapat hadir melalui tekstur wastra, motif yang sangat halus, detail konstruksi, hingga pilihan material.
Ia mencontohkan double-breasted suit dengan potongan modern yang dapat diberi sentuhan Indonesia secara sophisticated tanpa terlihat seperti pakaian tradisional. Sebab, fesyen Indonesia memiliki ruang untuk ikut membangun identitas visual seorang pemimpin negara.
